Jangan bicara tentang Idealisme, mari bicara berapa banyak uang dikantong kita ........ !
Jangan bicara tentang runtuhnya moral, mari bicara tentang kita yang lupa
warna bendera sendiri ...... !
( sebuah lirik lagu by Iwan Fals )
Jika kita bicara tentang Idealisme pada saat sekarang ada dua kata yang bisa kita temukan yaitu : MATI atau PINGSAN ! .
Begitu gelisah dan frustasinya pendapat kita tentang Idealisme pada saat sekarang ini sampai ada seorang ahli yang mengatakan jika kita ingin merubah bangsa ini maka kita harus menghilangkan satu generasi ! mengapa semua ini terjadi ? kita baru sadar setelah bisul tumbuh subur dihidung kita yang memang ga mancung !
kita bisa saja mencari pembenaran bahwa generasi kita sekarang ini adalah warisan dari generasi sebelumnya atau kita menyalahkan efek dari globalisasi luar yang menulari kebudayaan bangsa ini sehingga terjadi kerusakan dan pergeseran nilai sampai sekarang ini ? seperti lingkaran setan yang terus berputar dan tidak terputus.
Sebagian orang menyalahkan sistem pemerintahan kita yang terlalu lunak menerapkan sangsi dari peraturan yang dibuat, jika sudah sampai disini kembali kita terbentur tembok raksasa yang tidak mungkin kita tembus dengan hanya mengandalkan pena yang tintanyapun sudah habis, miris ya Bangsa dengan SDA yang melimpah, dengan seluruh penduduknya harus beragama , sedangkan didalam ajaran agama manapun di dunia ini tidak ada yang mengajarkan tentang perusakan.
Bagaimana warisan untuk generasi sesudah kita nanti, masihkah seperti kita sekarang ini atau mungkin lebih baik ?
Kita seharusnya takut meninggalkan generasi sesudah kita sebagai generasi yang lemah, mengamati lirik lagu diatas ada benarnya juga, sekarang bukan waktunya lagi berbicara tapi waktunya bertindak dan melaksanakan teori yang kita dapat. Apalah kita ??? jika dibanding dengan RAKSASA perubahan yang menelan segalanya termasuk budaya dan moral bangsa ini, dan kita tidak bisa melawan dan anti dengan perubahan itu sendiri tetapi yang harus kita lakukan adalah menyelaraskan dan memfilter mana yang sesuai dengan kultur dan moral bangsa ini mana yang tidak.
Setidaknya kita bisa memposisikan kita apapun peran kita dalam masyarakat sebagai tembok terakhir IDEALISME jika kita tidak bisa lagi mewarnai dan menjadi agen perubahan, jadilah kita sebagai bunga yang menempel di dinding tembok monarki, yang lama-lama akan meruntuhkan tembok tersebut dan menimbulkan dan menumbuhkan benih-benih IDEALISME untuk generasi sesudah kita kelak. Selamat berjuang dan selamat tertusuk onak dan duri namun yakinlah TUHAN ada dan harapan itu masih ada !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar